Dengan bertambahnya usia, jamak saja bila kondisi dan fungsi tubuh pun makin menurun. Tak heran bila pada usia lanjut, semakin banyak keluhan yang dilontarkan karena tubuh tak lagi mau bekerja sama’ dengan baik seperti kala muda dulu. Jangan hanya menunggu hingga orang tua Anda terlanjur jatuh sakit. Pahami faktor risiko dan gejala penyakit yang kerap terjadi, dan bantu orang tua agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik di usia lanjut.
Nina Kemala Sari dari Divisi Geriatri, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dalam suatu pelatihan di kalangan kelompok peduli lansia, menyampaikan beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya sebagai a series of I’s. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh).
Selain gangguan-gangguan tersebut, Nina juga menyebut tujuh penyakit kronik degeratif yang kerap dialami para lanjut usia, yaitu:
Osteo Artritis (OA)
OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.
Osteoporosis
Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya produksi vitamin D.
Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal.
Diabetes Melitus (DM)
Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.
Demensia
Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan rendah.
Penyakit Jantung Koroner
Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.
Kanker
Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul kanker meningkat.
Sumber: Pelatihan PUSAKA
Semua orang pasti mengalami proses penuaan. Dengan memahami apa yang lazim terjadi, kita dapat mengantisipasi dan menghadapinya dengan lebih baik.
Sebagai anak dengan orang tua yang berusia lanjut, sekaligus sebagai individu yang sedang menjalani proses penuaan, rasanya kita semua sepakat bahwa kita ingin menua dengan sehat (healthy aging). Berharap tetap dalam keadaan sehat lahir batin, mampu tetap berkegiatan, mandiri menjalankan fungsi dan mengoptimalkan potensi diri, berapa pun usia kita. Dengan harapan itu, ada baiknya kita mengenali apa yang lazim dialami sejalan dengan proses menua. Satu, supaya kita tidak terkaget-kaget dengan proses yang berlangsung. Dua, agar kita antisipatif melakukan upaya-upaya yang perlu dilakukan berkenaan dengan perubahan yang terjadi.
Proses menua konon terjadi di tataran sel maupun organ tubuh. Perubahan fisik ini mempengaruhi fungsi, tampilan dan pengalaman menua itu sendiri. Lazimnya, perubahan fisik berdampingan dengan perubahan psikologis, sosial dan spiritual.
Berbagai sumber sama-sama mencatat bahwa proses menua terjadi dalam berbagai organ dan sistem tubuh. Perubahan kondisi dan fungsi biasa terjadi pada organ mata, telinga, mulut, hidung, tulang, sendi, otot, otak dan sistem syaraf, jantung dan pembuluh darah, paru-paru, ginjal, saluran kencing dan organ reproduktif. Lebih lanjut, penuaan juga berlangsung dalam sistem pencernaan, endokrin dan imunitas.
Secara sosial dan spiritual, individu menua juga mengalami beberapa perubahan. Memasuki usia reproduksi aktif, kebanyakan individu mulai menjalani relasi dengan individu lain. Beberapa memilih menikah, berkeluarga dan memiliki anak sementara beberapa memilih melajang dan bahkan mengalami perceraian. Sejalan dengan pertambahan pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman, individu-individu meniti karir gemilang. Banyak kawan memiliki keluarga damai sejahtera. Namun, banyak teman juga yang kesepian, stres dan depresi. Beberapa lainnya dalam keadaan bahagia dikitari kawan, tetangga, keluarga, saudara yang menyenangkan dan saling mendukung.
Tidak sedikit juga juga yang adem ayem, hidup baik dengan kehidupannya yang biasa-biasa saja’. Ada yang makin taat beribadah. Ada yang makin sadar tentang kekuatan yang “Maha”, serta ada yang makin peduli atau justru tidak peduli dengan sesamanya.
Dengan beragam kondisi itu, nyatalah bahwa tiap individu berkembang, menua dengan proses yang unik satu sama lain. Tidak ada template atau formula tetap perkembangan tiap kehidupan. Menjalani hidup merupakan keputusan atas rangkaian-rangkaian pilihan dan ketetapan kodrati. Karenanya, mari kita kenali, coba nikmati dan lakukan upaya-upaya menata hidup yang baik.
Mulailah bergaya hidup sehat sejak sekarang, dengan:
- Menjaga asupan makanan minuman dalam gizi berimbang. Intinya, asupan yang berlebih atau terlalu sedikit tidak baik.
- Lebih baik minum air putih minimal delapan gelas sehari daripada mengkonsumsi minuman berwarna” seperti kopi, teh, sirup, dan soda yang berlebihan.
- Semakin kita cinta merokok atau terus dikitari perokok aktif, semakin berisiko kita terhadap berbagai penyakit seperti jantung dan kanker.
- Semakin banyak mengkonsumsi alkohol, lagi-lagi kita menambah faktor risiko berbagai penyakit.
- Meski tidak mudah, kita perlu terus berolah raga minimal 30 menit sehari, tiga kali seminggu.
- Berhati-hati saat berkegiatan atau di jalan, misalnya dengan memegang pegangan tangga, menggunakan sabuk pengaman di kendaraan, tidak berlari-lari di tangga, memakai sepatu/sandal yang aman’ dan nyaman.
- Berperilaku seksual yang tidak beresiko, misalnya tetap setia dengan pasangan, dan menggunakan kondom bila melakukan perilaku seksual berisiko.
- Luangkan waktu dan nikmati istirahat minimal enam jam sehari.
- Jangan memanjakan stres. Lebih baik manjakan diri untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Hidup terlalu mahal dan sia-sia untuk diisi stres.
Memperhatikan dan menjaga kesehatan tubuh, dengan:
- Rajin-rajin belajar’ tentang kesehatan melalui kepustakaan, internet atau ngobrol kiri kanan. Bila mampu, berkonsultasilah dengan dokter secara berkala, misalnya tiga bulan sekali. Selain konsultasi, tes-tes dasar fungsi tubuh dapat dilakukan oleh dokter umum/dokter keluarga.
- Kenali apa yang terjadi dengan tubuh kita. Rasa lelah, tidak nyaman, pusing, tegang otot, misalnya, jangan ditolak. Sinyal kecil dari tubuh itu sesungguhnya cara tubuh protes’ dan memberitahukan kita ada sesuatu yang tidak benar’ berlangsung dalam tubuh kita.
- Dokumentasikan hasil tes, resep obat, penyakit, keluhan-keluhan tubuh yang kita rasakan dengan baik.
- Bila mampu, lakukan vaksin flu, pnemucoccal pneumonia (di Amerika Serikat) dan tetanus bagi lansia.
- Bila mampu atau merasa memiliki risiko tinggi terhadap penyakit-penyakit tertentu, lakukan tes laboratorium, deteksi dini secara berkala, misalnya:
- Tes tekanan darah – Setahun sekali bagi semua. Tatalaksana dilakukan bila diperlukan
- Tes darah untuk uji kadar gula darah – Setiap tiga tahun bagi yang tidak berisiko, setahun sekali bagi mereka yang pernah teridentifikasi berkadar tinggi.
- Pap smear (deteksi dini kanker leher rahmi) – Setahun sekali bagi mereka yang aktif secara seksual ataupun berisiko tinggi.
- Periksa payudara sendiri – Setiap bulan sejak hari menstruasi terakhir.
- Mamografi (deteksi dini kanker payudara) – Setahun sekali bagi mereka yang berisiko tinggi atau berusia di atas 50 tahun.
- Tes untuk deteksi dini kanker prostat – Bagi mereka yang merasakan gejala atau mulai dari usia 40 tahun. Dapat berupa pemeriksaan colok dubur atau melalui kadar PSA di darah.
- Tes darah untuk uji adanya HIV – Setahun sekali bagi mereka yang berisiko tinggi.
- Pengamatan kulit (deteksi dini kanker kulit) dan mulut – Setahun sekali pemeriksaan tubuh lengkap oleh dokter dan dokter gigi bagi mereka yang berisiko tinggi (merokok untuk risiko kanker mulut).
- Tes kemampuan mental (deteksi dini demensia, delirium) – Setahun sekali mulai dari usia 50 tahun.
- Tes darah untuk uji kadar hormon tiroid) – Setahun sekali mulai dari usia 65 tahun. Beberapa ahli merekomendasikan untuk perempuan.
-
Selain itu, hal-hal berikut ini juga potensial manjur membuat hidup kita sehat batin.
- Terus bercita-cita sambil tetap realistis melihat kemampuan diri dan kondisi sekitar.
- Tetap hidup hemat, menabung sambil berinvestasi yang tepat.
- Tetap peduli dan menata relasi baik dengan sesama dan lingkungan sekitar.
- Mengurangi pikiran-pikiran dan niat jahat.
Sumber: Beers, Mark H (2006) Manual of Health and Aging. New York: Ballantine Books.







0 komentar:
Posting Komentar